Journal

The Brandals gig review @ Jember from one of the audience's view

taken from http://nurannuran.wordpress.com/2008/03/28/the-brandals-live-concert-jember/

The Brandals Live Concert @ Jember Maret 28, 2008

Diarsipkan di bawah: Musik — Nuran Wibizono Katrok @ 11.45 p03

Jember adalah kota kecil. Mungkin itu sebabnya para band-band indie terhitung jarang menyambangi Jember. Terhitung hanya The Hydrant yang pernah mampir ke Jember, itu pun sebagai opening act dari Saint Loco dan Edane. Lain The Hydrant? Jangan harap menemukan nama seperti The S.I.G.I.T, Inspirational Joni atau Jack And The Four Men di Jember. Band-band yang main di Jember adalah band-band “perahan” major label macem Nidji, Kangen Band dan terakhir ada Juliette dan Lobow yang dibawa oleh salah satu operator telepon seluler terbesar di Indonesia. Jadi mungkin band-band indie yang masih berjuang dengan semboyan DIY akan berpikir dua kali untuk menyambangi kota kecil di ujung Jawa Timur yang bernama Jember.

Tapi hari Jumat tanggal 7 Maret 2008 menjadi hari yang special bagi para pecinta musik indie di Jember. Salah satu band indie terbaik di Indonesia hadir di Jember. Yap, The Brandals, para berandalan ibu kota ini bela-belain datang ke Jember untuk mempromosikan album terbaru mereka, Brandalisme. Kedatangan mereka ke Jember didukung oleh, lagi-lagi, salah satu provider seluler di Indonesia. Mau?

 

 

***

Tanggal 7, The Brandals maen di Metro Café. Liat yuk… jemput aku ya…

Sms dari Elok masuk ke Hpku. Ha? The Brandals? Ke Jember? Kapan? Sebenarnya wajar kalau aku heran, karena memang gak ada publikasi luas tentang konser ini. Gak ada spanduk, gak ada pamflet, gak ada baliho atau apa pun yang menandakan akan ada konser salah satu Band pengusung rock n roll ini. Si Elok pun tahu kabar ini dari radio yang Cuma menyiarkan sekilas. Selebihnya? Gak ada publikasi sama sekali.

Akhirnya dari hp ke hp, berita pun menyebar dari mulut ke mulut. Sampai lah berita itu ke komunitas Tegalboto, komunitas Sastra dan beberapa orang teman. Tapi sayang, karena kendala publikasi itu, aku jadi gak tahu jam berapa The Brandals maen, berapa harga tiketnya dan info-info lain. Jadinya setiap ada orang nanyain hal itu ke aku, aku Cuma bisa jawab, “gak tau…”

 

***

Ternyata The Brandals maen jam 10, karena Metro baru buka jam segitu. Wa gak dibolehin keluar jam segitu…

Lagi-lagi sms dari si Elok. Cewek pecinta the brandals ini memberi sedikit clue tentang jam main The Brandals. Merasa si Elok mungkin punya info lain, aku sms dia…

 

Ya udah, boong aja ke ortu. Bilang aja mau ngerjain tugas ke rumah temen, trus bilang nginep dirumah temen, hehehe… eh, tau harga tiketnya gak?

Bagus, aku ngajarin seorang cewek alim untuk boong… tuhan bakalan ngelaknat aku…

Wa gak mau boong! Takut kualat! Kata temen wa sih gratis… ya udah, enjoy the show ya…

Bagus Elok, kamu memang anak berbakti, hehehe… Tapi yang aneh, masa sih konser The Brandals gratis?

 

***

Tanggal 7 tiba. Aku udah ngehubungin beberapa temen yang mungkin mau diajak nonton. Tapi sayang sekali, yang bisa aku ajak adalah teman cowok. Karena sangat jarang temen cewekku suka The Brandals. Salah seorang teman cewek, si Pimred Tegalboto, malah sukanya lagu Abang Tukang Bakso… (lupa ama umur dia)

Setelah confirm, HTM konser itu seharga 15 ribu rupiah… wadaw! Lumayan mahal juga sih. Lagipula besok aku juga ada touring ke Alas Purwo. Sabtu depan juga ada Konser Skid Row di Malang. Uang di dompet juga udah menipis. Tapi demi band berandalan itu, aku bela-belain ngebayar duit segitu.

Akhirnya malam jam 21.30 aku jemput si Taufik di Kostnya. Kita pun berangkat dengan hati riang gembira. Teman konser kali ini ada si Widhi juga. Dia anak Tegalboto yang juga suka The Brandals di samping suka Trio Tigers atau Trio Macan ,hahaha…

 

***

Metro Café, 21.45

Ini pertama kalinya aku pergi ke kafe. Dan bener, HTM The Brandals itu 15 ribu. Aku kirain ada welcome drinknya, bir kek, atau paling jelek, ya Softdrink. Eh, malah dikasih starter pack-nya sponsor. Sebenarnya hal itu lumayan, kalau saja di Jember sinyalnya kuat. Masalahnya, provider ini masih baru di Indonesia. Di Jember sinyalnya juga jarang. Kadang ada, kadang gak ada. Intinya, kalau disuruh milih antara satu gelas bir atau starter pack itu, aku milih satu orang cewek bahenol (lho?!).

Ini pertama kalinya aku masuk Metro Café. Selain karena gak suka nongkrong di café, aku juga gak suka kehidupan malam di café. Mendingan nongkrong di warung kopi Toyib atau Cak David. Si Widhi udah dateng duluan bareng temannya.

 

Me and Widhi
Topik And Widhi

 

Metro café ini terletak di lantai 4. For your info, kafe ini terletak di sebuah mal yang udah bangkrut. Jadi satu-satunya kehidupan ya ada di café yang terletak di lantai paling atas ini. Ibaratnya, saking sepinya, kita bisa ML tanpa ketahuan orang lain. Tinggal cari tempat yang sedikit gelap, jadilah.

Ternyata konser The Brandals belum mulai. Bahkan Band opening act-nya pun belum muncul. Oh ya, Band opening act kali ini dateng dari Jogjakarta. Ada Armada Racun dan Pagi Hari. 2 band ini juga termasuk salah dua dari beberapa puluh band indie potensial di Indonesia…

Jam 22.10 baru Armada Racun keluar. Band ini terdiri dari 1 orang keyboardis cewek nan imut, 1 orang drummer gundul penuh tato, dan 2 orang bassist yang salah satunya adalah sang vokalis. Gitaris? Itulah uniknya mereka, mereka gak memiliki pemain gitar. Formasi ini sedikit mengingatkan aku pada The Doors. Bedanya, The Doors malah gak memiliki bassist. Musik mereka? Sedikit garage rock dicampur dengan formula psychedelic. Cukup segar dan unik. Mereka memainkan 3 lagu yang sama sekali asing bagi aku tapi gak mengurangi keasyikanku dalam ngeliat performance mereka.

 

 

 

Band kedua adalah Pagi Hari. formasi mereka terdiri dari 1 drummer, 1 bassist, 1 gitaris dan 1 vokalis cewek cadas yang juga merangkap gitaris. Mereka tampil keren malam itu.

“Selamat malam Jember! Baru tadi sore kita nyampe di Jember. Masih sedikit capek. Aku juga kurang fit hari ini. Tapi demi kalian yang udah bela-belain hadir disini, kami berusaha tampil maksimal” sang vokalis cewek ini sedikit berorasi.

Terang aja kalimat itu mengundang tepuk tangan para penonton yang sebagian besar masih gak tau siapa itu Pagi Hari, gimana lagu-lagu mereka. Aku dan Widhi tahu band ini dari situs youtube yang menampilkan saat mereka main di Soundrenaline.

Sang vokalis cewek ini mau gak mau mengingatkan aku pada Joan Jett. Rambut pendek, suara khas dan sama-sama memegang gitar. Mengandalkan power dalam permainan mereka, hanya beda jenis musik. Kalau Joan Jett memainkan rock n roll ala 80-an, kalau Pagi Hari mereka memainkan rock modern yang kadang-kadang orang menyebutnya sebagai musik emo. Yang penting dandanan mereka jauh dari emo. Dan musik mereka keren, berkarakter dan ngerock! Itu aja yang penting. Setelah ngebawain 4 lagu, mereka pun pamit mundur diiringi tepuk tangan yang membahana di seluruh penjuru café. Well done guys!

Sepi…

***

Band yang telah ditungu-tunggu akhirnya datang juga. The Brandals yang terdiri dari Eka (vocal), Toni (gitar), Bayu (Gitar), Dodi (Bass), Rully yang berdiri di belakang perangkat drum yang juga sekaligus adik dari sang vokalis.

“Selamat malam Jember! Ayo teman-teman, maju dong, jangan duduk aja. Nonton musik rock sambil duduk-duduk sama seperti nonton striptease tapi gak bisa dipegang!” kata-kata pembuka dari sang vokalis meluncur tanpa beban yang langsung disambut teriakan bagaikan massa pendukung dari calon bupati yang menggemborkan janji palsu…

 

***

Setelah Pagi Hari tampil dan The Brandals masih siap-siap, ada satu kejadian menarik. Sang MC dari neraka mulai iseng. Sambil menenteng 2 buah tas kecil berisi sesuatu, dia berkeliaran mencari penonton untuk sebuah game. Bagaikan penyamun yang mencari perawan, dia berkeliaran. Orang apes pertama adalah cewek yang kelihatan binal yang duduk di meja sebelahku. Orang apes kedua adalah orang mesum yang duduk di sebelahku, siapa lagi kalau bukan Taufik.

“Ayo mas, maju, maen game, ntar dapet hadiah” bujuk si MC.

“Nggak mas, sebelahku aja wis” si Taufik mengelak sambil menunjuk agar aku aja yang bermain game. Si Taufik ini meskipun sering malu-maluin, tapi dia sangat grogi kalau disuruh tampil di depan umum.

“Ya udah kalau gak mau hadiah, biar mas disebelahnya aja yang maju”

Aku yang udah males mau mengelak, akhirnya pasrah ketika digelandang menuju depan untuk bermain game, entah apa bentuk gamenya. Otak liar sedikit berpikir, jangan-jangan disuruh cipokan sambil ngambil permen dari bibir cewek binal disebelahku ini? Tapi sang MC ternyata gak secabul aku. Setelah dapet 1 pasangan cowok-cewek lagi, dia mengumumkan gamenya.

“Joget sambil mengikuti musik!”

MATI AKU!

Kenapa gak suruh aku telanjang sekalian?

“What should we do then?” Tanya cewek binal disebelahku sok inggris.

“You should fuck me!” aku pengen ngomong gitu, tapi takut digampar.

“I don’t know, just shake your hips and try to do any dance just like he asked…” sahutku.

Musik pun dimainkan. Lagu dance yang sering diputar di acara dangdut koplo di kampung-kampung. Musik yang akan membuat kita berjoget hingga lupa umur. Musik yang bikin oom-oom lupa kalau mereka sudah punya anak istri. Dan ini jelas bukan musik favoritku. Kenapa gak sekalian musik dangdut aja? Toh ntar hasilnya pasti sama-sama joget. Tapi sayang, sang DJ sepertinya tidak mendengar ucapan dalam hati itu. Dia tetap memainkan musik itu seperti orang yang digigit semut hitam dipunggung. Menggelinjang. Kesetanan. Kesurupan.

Tanpa dikomando, cewek yang aku sangka binal maju kedepan. Mengambil kursi. Dan ternyata dia membuktikan kebinalannya. Dia goyang. Entah goyang apa. Goyang gergaji kek, goyang ngecor kek, goyang ngebor kek, gak penting. Yang penting dia HOT! REALLY REALLY HOT! Beberapa orang laki-laki bertampang mesum dan mata jauh lebih mesum – termasuk Taufik pastinya – ngeliatin dan bersorak kegirangan. Yeah! Do it more baby!

Setelah puas merangsang beberapa pria, sekarang giliranku maju.

“Mas, sapa namanya?” si MC busuk ini bertanya

“Nuran”

“Lurah?” tanyanya sambil tertawa nista

Anjing

“Nuran!” sahutku sedikit lebih keras

“Apa? Murah?” dan kali ini ketawanya membahana

Taiiikkkk…

“Whatever lah, yang penting, ayo joget!” sahutnya.

Damn! Aku kudu joget apaan? Aku nyesel dulu gak pernah mau diajak liat dangdut dan belajar koreografi dangdut ama preman-preman yang nonton – yang goyangnya jauh lebih hot daripada penyanyinya sendiri –

 

Sempet terpikir mau joget nista ala iklan batere, tapi aku takut dilempar botol.

Tepuk tangan semakin membahana, aku panik!

Kalau di panggung, jangan gunakan otakmu

Tiba-tiba aku inget salah satu petuah dari pengunjung blogku. Dan tiba-tiba aku maju, dengan gaya penari striptease di video klipnya Aerosmith. Entah apa yang aku lakukan. Aku maju mendekat ke kursi. Melepas jaketku perlahan. Memutar-mutar jaketku diatas kepala, seperti koboi memutar tali lasso. Dan sorakan langsung terdengar. Sempet terdengar pula jeritan beberapa wanita, tapi kurang begitu jelas bunyi jeritannya, apakah “kamu ganteng!” ataukah “Kamu gay ya?” but, show must go on…

Seperti orang gila, aku memutar-mutarkan pantatku. Damn! Aku lebih baik mati! Tapi karena teringat petuah bijak tadi, aku seakan membuang semua akal sehatku. Insting yang bermain bung!

Aku berjoget. Meliuk. Cepat. Cadas. Hot. Binal. Nakal. Menggoda. Merangsang. Entah apa lagi. Mungkin kalau ada tante girang lagi liat aku joget, aku berani bertaruh, dia bakal nyamperin aku dan nanya “tarifnya semalam berapa mas?” hehehe…

Dan penyiksaan pun usai. Tepuk tangan membahana. Aku jadi ngerasa, kok aku yang show, bukannya The Brandals, hehehehe.

Setelah 2 orang berikutnya berjoget, saatnya pengundian siapa yang menang. Hadiahnya cuman ada 2 paket aja. Siapa yang menang dari 4 orang itu?

 

***

The Brandals telah berorasi dengan cukup bagus. Kalimat yang mencerminkan bagaimana seharusnya band rock n roll bersikap dengan kata-kata. Nakal dan sedikit vulgar. Gak sopan? Kalau anda ingin sesuatu yang sopan, silahkan datang aja ke Seminar atau arisan RT, jangan ke konser rock n roll.

Konser malam itu sepi. Banget malah untuk ukuran band seperti The Brandals. Di Jakarta mereka adalah bintang, meski ada suatu waktu dimana mereka sepi dari job karena kelakuan sang vokalis yang gemar melontarkan kata-kata tak senonoh yang mungkin dianggap sedikit berlebihan buat para penonton. Tingkah laku sedikit berandal itu pula yang menyebabkan sang vokalis sempat dilempar Lumpur oleh beberapa anak yang berdandan punk saat mereka jadi headliner di pensi salah satu SMA di Jakarta pada tahun 2004. Plok! Tepat di wajah, dan sang vokalis beserta bandnya harus turun dari panggung. Karena barang yang dilempar semakin banyak, dan tidak Cuma Lumpur.

Sejak saat itu, The Brandals sempat di black list oleh beberapa Event Organizer di ibu kota. Dan The Brandals pun sepi job. Mereka tenggelam.

Gara-gara publikasi yang kurang maksimal, hasilnya pun jelas tidak maksimal. Dan hal itu terlihat saat konser ini. Hanya segelintir orang yang datang demi The Brandals. Memang café ini cukup ramai, tapi aku yakin, yang datang untuk menonton konser The Brandals hanya segelintir saja. Dan benar, yang maju ke depan panggung mungkin hanya sekitar 15 – 20 orang saja. Yang lainnya? Duduk sambil menghisap rokok mereka. Saat itu pula aku jadi tambah yakin kalau sebenarnya seksi Pubdekdok mungkin jauh lebih krusial perannnya dibandingkan seksi konsumsi atau malah Ketua Panitia.

Ah peduli setan dengan mereka yang Cuma duduk manis! It’s rock n roll show fucker! You don’t have to be a saint here! Dance till you drop!

 

***

Eka Annash adalah seorang dengan bad attitudes. Suka mengumpat, mengeluarkan kata-kata kotor dan sederet perbuatan tak menyenangkan lainnya. Entah apakah itu cuma propaganda media yang cenderung membesar-besarkan sesuatu atau itu hanya publicity stunt, tapi aku tidak melihat itu semua saat konser kemarin. Yang ada hanya vokalis yang atraktif, komunikatif dan kreatif. Tak sekali pun kata-kata kotor keluar.

Malah pada saat lagu “Bercinta”, dia turun dari panggung yang memang tingginya hanya ½ meter saja. Mengajak para penonton yang berjumlah sedikit untuk bernyanyi bersama. Karuan saja crowd langsung menggila. Mereka memeluk Eka, bernyanyi bareng, menjepretkan kameranya, menjadi fotografer mendadak. Dan aku termasuk salah satu dari mereka.

 

 

 

 

 

***

“Sekarang anda yang menentukan pemenangnya” sang MC dari neraka itu sok serius, sedikit meniru para MC di ajang yang bisanya cuma mencetak idola instan.

“Semakin banyak yang bertepuk tangan untuk peserta yang dipanggil, maka dia yang menang”

Aku ragu. Mungkin yang menang adalah 2 orang cewek, karena sebagian besar penonton adalah para cowok-jarang-sholat-mesum-dan-tak-pernah-disentuh-cewek. Dan aku sedikit beranggapan positif kalau mereka adalah cowok-cowok yang bukan gay. Jadi sedikit kemungkinan mereka bertepuk tangan untuk cowok gondrong awut-awutan bernama Nuran yang dengan nista berjoged striptis ala Alicia Silverstone di video Crazy-nya Aerosmith.

“Peserta pertama, si Ayu (Nama samaran)” terdengar tepuk tangan membahana.

“4700 orang yang tepuk tangan!” sahut sang MC

Baguuuus, selain jadi MC, ternyata kamu adalah pegawai statistic yang tangguh.

“Peserta kedua, eh, sapa nama lu?”

Kampret!

“Nuran!!” Aku teriak sambil berharap gak dipanggil Paimin.

“Oke, Nuran… Gimana dengan performance Nuran?!”

Dan tanpa aku duga, penonton bertepuk tangan dengan meriah, sangat meriah! Mengalahkan si Ayu. Malah ada beberapa gerombolan cewek-cowok yang pake standing ovation segala. Damn! Aku terharu! Terima kasih buat Tuhan YME, orang tuaku yang mendidik aku dengan baik, para teman-temanku yang selalu ada buat aku, hiks hiks… I love you all!! Hahahahaha!!! Tapi beneran! Yang tepuk tangan ada buanyak! Malah aku liat, si Eka dan personel The Brandals lain sempat ketawa-ketawa sambil tepuk tangan.

“ Wow! Ada 5467 orang yang tepuk tangan!”

Dan 2 orang sisa, bisa dianggap sebagai penghibur saja. Hadiahnya? Cukup mendapatkan ucapan terima kasih doang, hehehe.

“Ini hadiahnya, thanks” si MC menyerahkan hadiah. Tiba-tiba saja dia terlihat sangat baik hati dan tampan serta menawan, huahahahaha!!!

Pas aku ngeliat, isinya 2 starter pack (lagi!) dan 1 buah CD The Brandals yang baru! Damn! I’am a lucky bastard. Yah, cukup setara dengan pengorbananku striptis tadi, hohoho. Dan pas aku kembali ke tempat dudukku, si Taufik hanya bisa misuh-misuh setelah tahu bahwa hadiahnya adalah CD The Brandals. Ayu sang gadis binal pun kembali ke mejanya. Dia menyulut rokok, sambil menawarkan rokok padaku. Tapi setelah dia tahu aku bukan perokok, matanya mengerling padaku sambil tersenyum penuh makna. Get laid? Kita liat aja ntar, tapi yang jelas aku masih ingin perjaka sampe nikahku ntar, hehehe. Atau mungkin mau sesuatu dariku yang jelas lebih besar dari sebatang rokok? Huahahaha, mesuuuummmm!!!!

 

***

 

Brandalisme adalah album ke 3 dari The Brandals yang bener-bener dikerjakan secara indipenden. Band yang berada di bawah naungan Aksara Record, sebuah label rekaman band indie ini sedikit demi sedikit mengumpulkan uang dari hasil manggung. Eka sendiri juga sempet bercerita soal penggarapan album ini.

“Kita bikin album ini dengan duit sendiri, biaya sendiri. Bener-bener do it yourself” katanya seakan memberi semangat band-band indie di seluruh Indonesia. Dia berkata begitu untuk menunjukkan bahwa semangat do it yourself harus tetap dipelihara. Dan untuk ukuran sebuah album indie, Brandalisme sangat jauh dari kesan mengecewakan. Musiknya terasa lebih dewasa. Di dua album sebelumnya, Self titled (masuk dalam daftar 150 album Indonesia terbaik) dan Audio Imperialist, liriknya cenderung agak mentah. Standar band rock n roll, sedikit nakal dan bercerita tentang masa muda, dunia malam atau one night stand. Audio Imperialist sendiri, meskipun lirik dan musik makin membaik, tapi kualitas sound yang dihasilkan sangat buruk. Tapi album ini sedikit berbeda. Unsur distorsi memang masih dominan, tapi lirik yang diusung jauh mengalami pendewasaan. Coba saja simak lagu Surat Seorang Proletar Untuk Kaum Elit Borjuis atau Janji 1000 Hari. Liriknya menyerempet kearah social politik. Hmm, suatu transformasi yang cukup berhasil. The Brandals juga menyisipkan bebunyian terompet dalam lagu Is It You Girl?. Pemain terompet sendiri adalah Amar, sang peniup trompet Maliq and D’Essential. Is It You Girl? jadi lagu yang cukup nendang menurut saya. Sebuah album bintang 3 dari The Brandals.

 

***

The Brandals memang terlihat telah menyimpan energi untuk dihabiskan di panggung malam itu. Eka Annash seakan tak pernah lelah berjoget, berdansa, melompat, berteriak. Energinya tertular ke belasan penonton yang menyemut di depan panggung.

 

Tak terasa waktu sudah hampir jam 12 lewat. Penonton terus berteriak “24 Lewat!”, meminta masterpiece The Brandals itu untuk segera dimainkan.

“Sabar, belum juga jam 24 lewat” Eka mengelak. Gantinya, The Brandals menggempur dengan lagu baru dari album baru, Broken Heart Blues. Dan lagi, penonton bernyanyi. Lingkar Labirin, Mobil Balap bergantian dinyanyikan. Dan waktu sudah lewat dari jam 24. Saatnya himne 24 Lewat dikumandangkan.

 

***

“Berkali-kali kau buat tidurku tak nyenyak… bertaburan lampu angkasa, mimpiku bergolak…” Himne pun dinyanyikan secara khidmat. Tak ada penonton yang tak bernyanyi. Semua menggelinjang resah, hingga puas. Dan saya berpikir, konser ini telah mencapai klimaksnya. Tapi ternyata para berandal ini belum puas.

Tanpa teriakan encore, 100 % Kontrol pun dimainkan. Lagu jagoan dari Album Brandalisme ini kembali mengundang koor dari penonton. Semua berkeringat. Semua bergairah. Semua ingin bercinta. Semua puas. Semua senang.

Dan The Brandals pun turun panggung diiringi bunyi tepuk tangan yang membahana. Jam dinding sudah menunjukkan pukul 24.20. DJ pun muncul dari balik panggung. Kembali memainkan lagu nista berirama disko. Dan aku tahu, saat sang DJ muncul, itu berarti saatnya aku, Widhi dan Taufik pulang. Memang masih banyak cewek-seksi-minta-ditidurin. Tapi energi telah habis terkuras setelah Bercinta dengan para berandalan ibu kota. Dan sekarang memang saat yang tepat untuk pulang, dan bercinta dengan bantal. Ah, Sebuah konser bintang 4 dari The Brandals.

 

Aku tahu dimana lantai dansa kan terinjak

Aku tahu dimana kita bisa teriak!

Ahhhhhhh !!!!!


An entertaining story on how The Brandals music inspiring a student on his final thesis. Fact or fiction? Ask the author himself on http://rockabilia.blogspot.com/. Enjoy!


Monday, March 17, 2008

The Brandal’s Story Before Magister Inauguration

Pak prof pembimbing saya adalah seorang penikmat musik. Seumuran ayah saya, ya kesukaannya gak jauh-jauh lah dari Beatles, Rolling Stones, Bee Gees dan lain-lain. Tadinya saya kira pak prof orang yang serius dan gak ada minat ama rock n roll. Baru menjelang sidanglah saya ngeh : si prof adalah seorang peminat musik, especially rock n roll.

Saya tahu dia peminat rock waktu nanya : ”Anda kenal dengan semua personil The Brandal’s ?” Hah, Brandal’s ? Kaget berat saya ngedenger si prof menanyakan seberapa jauh kedekatan saya ama kelompok musik indie label, yang menurut saya paling keren diantara band-band indie label taun 2000 ke atas.

”Lho, kok bengong ? Ini Eka Annash, Bayu Indra,...(si prof menunjukkan lembar persembahan dan lembar terima kasih dalam tesis saya, yang mencantumkan nama-nama personil The Brandal’s. Tulisannya : ”Terima kasih kepada Eka Annash, Bayu Indrasoewarman, Rully Annash, Tonny Dwi dan Doddy atas dukungan dan kesediaannya menemani penulis dalam pengerjaan tesis ini.”)...bukannya temen-temen saudara ? Saudara nge-band juga ya ?”tanya pak prof dengan mimik serius penuh antusias.

Saya ngerasa kayak maling ayam kepergok, maling jemuran tertangkap basah, karena nyantumin nama-nama mereka di lembar terima kasih dalam halaman-halaman awal tesis S2. Kepaksa ngaku deh, kepalang malu, lebih baik jujur sekalian.”Bukan prof, selama begadang mengerjakan tesis ini, saya mendengarkan lagu-lagu mereka. Lagu-lagu The Brandal’s. Aduh, maaf prof, kok prof tahu nama-nama yang saya cantumkan itu nama musisi rock ?”

”Ah, saya baru saja semalam tahu tentang grup The Brandal’s ini. Saya baca majalah punya keponakan di rumah. Gak tau majalah apa tuh, saya lupa namanya. Ripel ya kalo gak salah. Bahasanya sih acak-acakan majalah itu. Tapi, saya sempat baca tentang The Brandal’s. Maklum, saya liat ada yang rambutnya Afro-Kribo kayak Ahmad Albar. Siapa namanya ? Dia maen apa ?”

”Oh, itu Bayu Indrasoewarman, prof. Lead gitarisnya ?”

”Namanya kok kayak nama dosen muda Fekon (fakultas ekonomi) ya, he he he. Bagus lah javanese dan indonesia banget nama panggungnya. Gak perlu ganti jadi John, James atau apa gitu.”cerocos si prof sambil membuka lembar demi lembar tesis saya.”Oh, jadi dia semacam Ian Antono ya...kirain penyanyi utama.”

Ketegangan saya mencair pas sang profesor mengabsen nama-nama yang nge-trend dan nge-legend dalam perkembangan musik rock indonesia itu. Ripel, Ahmad Albar, Ian Antono....edan, pikir gue. Kok di akhir-akhir proses bimbingan saya dan prof baru diskusi soal musik rock. Saya gak tau sih...kirain si prof ini aliran Frank Sinatra atau Engelbert Humperdinck.

Saya bersiap-siap untuk menjawab pertanyaan-pertanyaan profesor, terkait beberapa perubahan di bab IV, waktu si prof tampak membuka-buka halaman tersebut.

”Jadi, Ed,...”saya menahan nafas menunggu pertanyaan yang akan dilontarkan si prof, karena biasanya pertanyaan guru besar ini cukup njelimet dan agak ajaib. Suka bikin surprise ”...musik Brandal’s itu kayak gimana sih ?”

Saya kaget. Bukan karena pertanyaan si prof yang njelimet, melainkan karena dalam proses komprehensif menjelang sidang minggu depan, sejak awal prof pembimbing utama malah menanyakan hal-hal yang gak ada hubungannya sama sekali dengan tesis. Dengan perasaan ajaib, geli, tapi tetep was-was, mengingat yang saya hadapi ini adalah guru besar dan tokoh yang amat sangat disegani rektor sekalipun.

”Musik mereka seperti Rolling Stones, prof. Tapi lebih keras. Eh, ada selipan Jimi Hendrix-nya juga...prof barangkali tau Jimi Hendrix ?” Glek, saya betul-betul kagok menerangkannya. Lebih mudah memilih kata-kata untuk ngejelasin tesis, daripada

”Lho, saya tahu dong. Di rumah piringan hitam saya banyak musik blues. Pernah di Belanda saya beli CD-nya Jimi Hendrix. Itu, yang konser di Albert Hall. Saya suka yang judulnya Purple Haze, sama itu tuh Crosstown Traffic. Saudara tahu lagu blues paling legendaris yang pernah ditulis sama Jimi Hendrix ? Coba tebak lagu apa coba ?”

Gubrak ! Jawaban prof bikin saya makin grogi, sampe-sampe saya terbengong gak menjawab pertanyaannya yang terakhir.

”Ayo apa ? Masak penggemar rock gak tau...”ucap si prof dengan santai, dan kali ini memandang saya dengan senyum anak kecil jahil. Senyum yang pertamakali saya lihat, semenjak delapan bulan belakangan saya dibimbing oleh beliau.

”Little Wings, prof. Betul ?”jawab saya, yang masih belum bisa mengendalikan gugup.

“Seratus untuk anda !”teriak si prof sambil mengacungkan jempol dan mengangkat gelas teh manisnya.

Saya kira, obrolan tentang The Brandal’s akan berakhir saat itu juga. Dugaan saya salah lagi. Sehabis saya menjawab pertanyaan soal Little Wings, pak prof masih terus menggulirkan beberapa pertanyaan, yang tidak bisa saya bedakan antara penasaran atau iseng, tentang kelompok yang sempet didapuk jadi band rock paling potensial 2006 oleh www.tembang.com itu. Kepalang malu, saya ungkapkan saja sekalian best cut, lirik, dan personil-personil yang menonjol.

“Best cut didalam album pertama Brandal’s adalah lagu Marching Menuju Maut, Lingkar Labirin, dan maaf pak, Anjing Urban.”

“Wah, judul-judulnya kok kayak judul buku-buku seniman Lekra ya ? Marxist ya mereka itu ?”
“Ya, sekitar kehidupan kaum urban saja, Prof. Sepertinya memotret Jakarta. Saya kurang paham mereka marxist atau bukan.”

”Terus, mereka sudah punya album ke-2 ?”

”Sudah, Prof. Audio Imperialist, judulnya.”

“Tuh, kan. He he he, marxist mungkin ya referensi mereka. Kalau bukan komunis ya mungkin sebut saja sosialis ya. Bagus juga album itu ?”

”Bagus, Prof. Ada lagu yang judulnya 24.00. Lagunya tentang wanita barangkali ya. Lalu ada juga yang judulnya antik : Dari Brandals Buat Yang Sedang Bercinta. Lagunya nge-beat dan didominasi riff dan permainan gitar yang antik dan ber-beat cepat, Prof.”

”Ooh, gitu ya. Meskipun saya belum mendengar, setidaknya saya punya gambaran. Musik mereka betul-betul mengadopsi warna 60-70-an ya. Yang saya tahu di Indonesia ya rock-rock yang populer yang lebih mudah dicerna seperti : God Bless, Slank atau jaman saya dulu, Giant Step atau Keenan Nasution Cs. Brandal’s itu memang khusus ya pendengarnya.”

”Saya kira begitu, Prof. Dari beberapa interview di media cetak atau online, The Brandals memang cenderung memposisikan sebagai band yang tidak mau label rekamannya ikut campur secara eksploratif, Prof. Tidak mau dicampuri proses kreatvitasnya.”

”Oh, bagus itu. Berarti mereka bukan sekadar musisi, tapi juga seniman. Saya semasa kuliah juga suka ber-kesenian. Tidak hanya main musik, tapi jenis kesenian yang lain juga. Toh, masing-masing cabang seni itu saling berhubungan, menjalin keterikatan untuk menegakkan pohon yang lebih gede...”ucap prof penuh semangat,”...yaitu pohon kesenian.”

”Nah, kesenian yang sehat itu ya kesenian yang gak dibatasi oleh target-target. Apalagi, target dapet duit. Kesenian itu sebelumnya bukan untuk cari duit kok. Kesenian itu biar kita sehat badan, sehat jiwa kan ? Kalau kesenian yang tidak sehat, dengan target tertentu, ya yang muncul : tari striptease, musik tripping atau lagu cengeng. Ngajak orang-orang ke arah yang gak bener, kalau kesenian cuma dipakai buat sekadar nyari duit.”

Saya manggut-manggut saja, dengan perasaan bahagia, karena proses kompre yang saya tempuh ternyata tidak sesulit yang saya kira. Asli, sehabis mengemukakan pendapatnya soal berkesenian, si prof cuma nanya : ”Ed, kamu dapat urutan sidang ke berapa nanti ?”

”Ke satu, Prof.”

”Ya, bagus kalau begitu.”

”Maaf, Prof, butir terakhir di lembar terimakasih itu saya hilangkan atau bagaimana menurut, Prof ?”
”Lho, kenapa dihilangkan.”

”Tidak, itu kan ucapan terima kasihnya tidak termasuk untuk pejabat almamater, keluarga atau kawan-kawan, Pak. Mereka kan musisi rock, Pak.”

”Ah, tidak usah. Toh, saudara tidak menulisnya dengan redaksional : thank’s untuk Brandals atau trim’s berat, seperti yang biasa dimuat sebuah band di CD-CD atau kaset rekaman terbarunya. Penguji yang lain kan belum tentu tahu siapa itu Eka Annash, Rully Annash, Bayu Indrasoewarman...ya mereka pasti nganggapnya temen. It’s OK lah, Ed. Cuma saya ama Allah yang tahu, ha ha ha !”

Wah, ngedenger kata-kata si prof itu, maka legalah saya. Ternyata guru besar yang namanya sangat disegani civitas akademik dan punya imej ”killer” buat sebagian mahasiswa, adalah seseorang yang menghargai sebuah pilihan yang tidak populer : mencantumkan nama-nama personil band rock yang digemari dalam lembar ucapan terimakasih sebuah karya tulis ilmiah. Bukan hanya respek sama beliau, saya jadi terharu karena kenang-kenangan saya begadang menyelesaikan tesis, ditemani petikan maut Bayu Indrasoewarman dan vokal ke-Iggy-Iggy-an-nya Eka Annash, berhasil dimonumentalkan dalam lembar ucapan terimakasih tesis saya, yang berjudul : ”Pengaruh Bauran Promosi Jasa Pariwisata Terhadap Minat Masyarakat Untuk Mengikuti Program Wisata Rohani di Pesantren Daarut Tauhiid Bandung.”
--
Selama 1,5 jam ketiga guru besar mencecar saya dengan pertanyaan-pertanyaan yang lumayan menguras otak dan tenaga. Alhamdulillah, saya berhasil melewati sidang dengan sukses, dengan kepala tegak, karena seluruh pertanyaan dari para penguji berhasil saya jawab. Gimana gak kejawab, locus-focus-nya memang saya kuasai, sebab penelitian dilakukan di lingkungan tempat kerja. He he he, gak maksud sombong ya.

Selesai sidang, prof pembimbing saya bilang ama koleganya, salah seorang penguji,”Prof, kalau musik classic mencerdaskan bayi dan anak balita, kalau untuk orang dewasa musik apa coba yang mencerdaskan ?”

Guru-guru besar yang beberapa diantaranya sangat populer, sebagai cendekiawan nasional-internasional itu pada geleng-geleng kepala. Salah seorang dari mereka ada juga yang nyeletuk, ”Dangdut mungkin ya ?”

”Salah. Hari ini saya mengungkapkan hipotesis sementara : bahwa musik rock mencerdaskan orang dewasa.”seloroh lantang prof pembimbing saya kepada kolega-koleganya.”Saudara Eddy ini seorang penggemar rock. Menulis tesis sambil denger musik rock, sekarang menjawab pertanyaan-pertanyaan penguji juga dengan semangat rock. Betul kan, Ed ?”

Para profesor dan asisten profesor tertawa, sementara panitia ujian sidang dan kawan-kawan saya tersenyum, mendengar kelakaran profesor.

”Betul saudara mendengarkan musik rock sambil menulis tesis ?”tanya salah seorang profesor, satu-satunya wanita, diantara penguji-penguji saya. Saya mengangguk sopan mengiyakan pertanyaannya.

”Tuh, kan, prof. Anak saya juga begitu. Dan anehnya, dia itu gak pernah keliatan belajar tapi kok nilainya bagus-bagus ya ?”timpal profesor perempuan tadi, kepada kolega-koleganya. Akhirnya, sidang saya berakhir, dan saya dipersilahkan untuk menunggu yudisium. Subhaanallah. Dalam yudisium, saya dapat nilai A, dan dari semua penguji tidak ada satupun yang memberi nilai dibawah 3,6 dari skala 4 ! Bahagia betul saya hari itu. Lulus ujian sidang dengan nilai maksimal, dan lagi-lagi membuktikan, seorang penikmat rock bukan hanya para pemabuk yang hidupnya serabutan dan ancur-ancuran. Seorang penggemar rock-pun bisa dapet gelar Master, dengan nilai akhir maksimal. Sukses ini kemudian mengilhami saya untuk menulis lirik : Dari The Brandals Untuk Yang Sedang Menulis Tesis. He he he...



Blog EntryBrandalisme Tur Jawa Timur & Jakarta 2008Mar 4, '08 3:15 AM
for everyone

The Brandals promo schedule :

Brandalisme Tour Jawa Timur
7 Maret
Metro cafe (20.00-22.00pm)
Jember, Jawa Timur

8 Maret
Flame Executive Club (20.00-22.00pm)
Malang, Jawa Timur

9 Maret
Colors Cafe (20.00-22.00pm)
Surabaya, Jawa Timur

13 Maret
Universitas Moestopo Jakarta (17.00pm)

22 Maret
Univesitas Sahid Jakarta (19.00pm)

Single Brokenheart Blues is available now for request on your favorite
radio station!
The Brandals will shoot their new clip for Brokenheart Blues on Tuesday March 11th 2008.
Directed by Dibyo (Santa Monica/ Adrian Adioetomo/ Gugun & The Bluesbug)
Brandalisme is out now on your local record store.

Regards,
The Brandals Management
www.brandalisme.com
www.myspace.com/audioimperialist
www.thebrandals.multiply.com
thebrandals@yahoo.com
thebrandals@hotmail.com

Contact The Brandals Management:
Fanno 0856 888 000 2
Ade 08656 804 5812



Request dan dengarkan single terbaru The Brandals '100% KONTROL' dari album
BRANDALISME di radio-radio kesayangan kota kamu!!
Jangan lewatkan tayangan klip 100% Kontrol (sutradara Andri Lemes) di
stasiun TV lokal.
BRANDALISME akan dirilis November 2007 dari Aksara Records.

Siaran Podcast dengan personil The Brandals untuk edisi promo Brandalisme
bisa di-download gratis dari iTunes. Klik ke iTunes store dan ketik
equinoxdmd.com
Atau langsung klik ke equinoxdmd.com, ketik the brandals.

The Brandals akan tampil live di program Riot On Air edisi Kamis 1 November
2007 pukul 8 malam membawakan lagu-lagu terbaru dari Brandalisme.

Untuk soft launching album, The Brandals akan tampil live di Lembaga
Pemasyarakatan untuk Anak dan Remaja di Serang, Tanggerang November nanti
Grand launch Brandalsime akan diumumkan segera setelah rilis. Nantikan
tanggal dan tempatnya!

Dukung organisasi dibawah ini:
WWF Indonesia (www.wwf.or.id)
Yayasan AIDS Indonesia (www.yaids.com)

PRES RILIS
12 November 2007 (release nasional)

"BRANDALISME"
Terminologi Brandalisme berasal dari meluasnya gerakan reaksi tolak balik
yang menyikapi pesatnya invasi lingkungan ruang publik oleh logo korporat,
iklan dan merek (brand). Tindakan termasuk merekonstruksi, mengatur kembali
dan bahkan menghapus/menghancurkan logo korporasi/ kapitalis yang
terpampang di ruang publik (brand+vandalism). Untuk menuntut kembali
identitas visual yang pada awalnya milik publik dan komunitasnya.

Fenomena aktivitas komunal ini berawal di Berlin di akhir dekade 90an.
Dimulai oleh sekelompok komunitas anti-korporasi/ kontra global trading/
kontra kultur yang kebanyakan beranggotakan mahasiswa, seniman, musisi dan
aktivis muda. Gerakan ini kemudian menyebar ke penjuru benua Eropa,
terutama marak di Inggris, dimana aksi tersebut diadopsi oleh seniman
graffiti baru macam Banksy dan komunitas Ad-Buster diantaranya.

Kami, The Brandals sebagai unit dalam bidang musik, beroperasi dengan
prinsipil reaksi tolak balik yang sama terhadap sistem industri musik kita.
Reaksi ini terekspresi pada tajuk album ke-tiga, dimana kami mengadopsi
terminologi Brandalisme. Walaupun tidak mengedepankan isu politik pada
agenda kami, terminologi ini lebih berlaku untuk sudut artistik dan
prakteknya. Tapi, kami berharap untuk menyebarkan prinsip dan efek untuk
pendengar setia The Brandals. Pesannya sengat jelas, untuk selalu
merencenakan, bertindak dan evaluasi semua aksi secara independen tanpa
intervensi besar dari pihak lain. Selalu mengatasi masalah dan resiko
ditangan sendiri.

Terminasi kata 'Brandalisme' juga teraplikasi pada pengembangan dari
musikalitasnya. The Brandals terus berevolusi sampai di titik dimana pada
akhirnya mereka menemukan karakterisasi yang sangat spesifik dari sound The
Brandals pada album kali ini. Perpaduan antara blues sways, punk rock
stomps, dan rockabilly rolls adalah bukti akurat sejak debut album pertama.
Tapi pada album ketiga ini the Brandals melebar ke teritori lain yang belum
pernah dijamah sebelumnya. Elaborasi peleburan elemen lain yang bisa
dirangkum sebagai 'The Brandals sound'. Karenanya, album ini diberi judul
Brandalisme.

Secara general yang membedakan album Brandalisme ini dengan yang sebelumnya
adalah adanya kehadiran rasa tanggung jawab terhadap apa yang mereka
berusaha ekspresikan dan bagi pada khalayak selama ini. Sebuah ciri khas
kedewasaan yang terkesan klise tetapi memang tidak bisa dipungkiri. Semua
ini hadir tanpa meninggalkan citra the Brandals yang selama ini telah
terbangun. Pemberontakan atau perlawanan yang hadir tampak lebih composed,
lebih dewasa. Seperti pemberontakan terhadap apatisme dan ingin membuat
perubahan secara positif terhadap lingkungan. Mereka berusaha mengajak
pendengarnya untuk lebih perduli dan sadar diri.
Sejak tahun 2005 lalu the Brandals diminta oleh yayasan AIDS, YAIDS, untuk
menjadi corong mereka dengan melakukan kampanye demi kepekaan anak muda
untuk penyakit tersebut. Pada tahun yang sama the Brandals juga diminta
oleh organisasi internasional WWF (World Wildlife Fund) untuk menjadi duta
organisasi yang memberikan pendanaan sosial dan lingkungan ini. Hal
tersebut juga menjadi semacam pengakuan yang signifikan terhadap sebuah
band yang ternyata tak hanya prima dalam performa tetapi juga sanggup
menjadi wakil untuk menyuarakan pesan-pesan penting kepada masyarakat
urban, terutama kepada pemuda di tanah air.

Sejauh ini demikian lah yang ditawarkan oleh the Brandals. Sound yang
mungkin akan diinterpretasi, kategorisasi dan direview sebagai album yang
buruk atau bagus bagi pendengar (ataupun oleh media). Sejujurnya, untuk
keuntungan mereka, hal terakhir yang mereka khawatirkan adalah kritik dan
hal yang ada di atas. Inilah apa yang tercurah dari hati mereka yang
terdalam. Sound dari Brandalisme.

Di album ini the Brandals kembali dibantu oleh beberapa teman seperjuangan
yang telah memberi dukungan tak terhingga. Ramondo Gascaro dan Awan Garnida
dari Sore (juga sejawat dalam label Aksara records) memberi bantuan vokal
latar serta sentuhan piano dan organ Hammond. Amar Ramadhan dari Maliq and
D'Essentials kembali hadir dengan tiupan terompetnya di lagu "Is It You
Girl?". Aghi Narottama (Ape On The Roof, LAIN) yang bertindak sebagai sound
engineer dalam proses mixing & mastering juga menyumbangkan hentakan piano
boogie di single petama "100% Kontrol". Nama David Tarigan pun menambah
riuh repertoire kami di lagu "City Boy" dengan gitar akustiknya.

Tak lupa, band asal Jakarta Timur ini juga berkolaborasi dengan seniman
graffiti muda Jakarta, Darbotz, yang mendesain sampul album dengan ikon
Cumi khasnya. Semua dukungan di atas menjadikan album ini sebagai
perpajangan perjalanan kedewasaan yang telah dimulai pada Audio Imperialist
(Flystation/Warner, 2005).

Formasi solid the Brandals: Rully, Bayu, Tonny, Doddy, dan Eka

DISCOGRAPHY

2003 - The Brandals (Sirkus Records)

2005 - Audio Imperialist (Flystation/Warner)

2006 - The Brandals [Remastered] (Aksara)

----------------------------------------------------------

Ingin mendapatkan lagu "100% Kontrol" , "Janji 100 Hari", atau "Is It
You,Girl?" di handphone kamu? Segera ketik dan aktifkan kode RBT-nya!

100% Kontrol: Flexi (6110230), XL (11400218), Indosat (BD2),
Telkomsel/Esia (2571137)
Janji 100 Hari: Flexi (6110232), XL (11400247), Indosat (BD4),
Telkomsel/Esia (2571139)
Is It You,Girl?: Flexi (6110236), XL (11400246), Indosat (BD6),
Telkomsel/Esia (2571143)

Cara download RBT:

Flexi: ketik RINGSUBKODE LAGU, kirim ke 1212. Tarif Rp.
8000/bulan (+PPN)

XL: ketik KODE LAGU, kirim ke 1818. Tarif Rp. 7000/lagu, biaya berlangganan
Rp. 5500/bulan (+PPN)

Indosat: ketik SETkode lagu, kirim ke 808. Tarif Rp. 7000/bulan
(+PPN)

Telkomsel: ketik RINGSUBKODE LAGU, kirim ke 1212. Tarif Rp.
9000/bulan (+PPN)

Esia: ketik RINGKode Lagu, kirim ke 888. Tarif Rp. 9000/bulan (+PPN)

www.brandalisme.com
www.myspace.com/audioimperialist
thebrandals.multilply.com
www.aksararecords.com
thebrandals@yahoo.com
thebrandals@hotmail.com


Blog EntryHate according to....(fill the blank)Jul 2, '07 2:12 AM
for everyone
1. Fucken hate whining sappy bands like Snow Patrol/ Kaiser Chef/ Travis/ etc
2. Fucken hate agro-macho poseur bands like Creed/ Linkin Park/ Alter Bridge/ etc
3. Fucken hate girls with BO
4. Fucken hate girls with over-dosed pride and prissy attitude
5. Fucken hate yuppies & metro-sexual types
6. Fucken hate looking at water being wasted and trees being cut down
7. Fucken hate nasty hangover & paranoid coming down
8. Fucken hate over-the-top price sneakers & other apparels
9. Fucken hate over-reacting door bouncers
10. Fucken hate being in a metromini/mikrolet ‘ngetem’

Blog EntryLove according to....(fill the blank)Jul 2, '07 2:12 AM
for everyone
It was my third (and last) year in Sydney. After spent almost 2 month of summer break in Jakarta, I went back for my last semester. I arrived on the morning of February 17th 2001, the day of Sydney’s annual Mardi Grass celebration. It’s the ultimate gay celebration of freedom and love equality, regardless of the sexes. By the time I hit city centre from the airport, I can smell the air of love jubilee, vaporizing the whole city landscape. As far as I can see was colorful glitters and shinny muscle of half naked men and women getting pumped up for the all-night long party and quite-possible mass love orgy (well, as far as Oxford St anyway-the ultimate gay spot in Sydney).

Sophie Chadwick, a girlfriend of my College of Fine Art (COFA) colleague William Litchfield, picked me up from the airport. William took Time Based Art major (Video-installation). I took painting. Anyway, Sophie took me to their humble household down at Glebe. There were more people in the house, all putting up their wackiest costume and make up. It was just almost mid-day, but they’re already in high spirit, drinking cheap champagne and home-made cocktails in the backyard. Everyone greeted me with their warmest welcome. Most of them are my college mates, so those homesick mood was quickly brushed away, as they gave me the biggest hugs and kisses. I felt like home already.

William, who just got back from the Bottle Shop bringing more alcohol, told me to put on my best suit tonight. I quickly cracked my suitcase open and pick my pilot-bomber leather jacket, put my black trouser and my moon boots on. In a matter of minute, I looked like one of those Japanese Kamikaze pilot in Pearl Harbor. There was something missing though. Everyone had their girlfriend/boyfriend with them. Or maybe love-squeeze. But I got no one. ‘Fuck it. Im gona get trashed anyway tonight. So it wouldn’t make any different’, I thought. I was lying to myself of course. Secretly hoping that I’d meet that special someone later.

A few glass of cocktails and shandies (mix of champagne and carbonated drink) later, I was a drunken monkey. I hopped around the room, stumbled over, dropped my pants, and almost exhibited my willies if William didn’t stop me from doing so. Next thing I knew, we were leaving the house to hit Hollywood Hotel down in Surry Hills, near Central station. The Bar at Hollywood Hotel is a seedy little hang-out for most of COFA students. They serves cheap VB (Victoria Bitter) and spirits. Sun started to set, so it must be somewhere around 7pm. We hung out at the second floor of the bar and looked over the window where the city landscape was vastly bathed by golden ray of sunshine. It was such a magnificent view. I got a feeling it’s going to be a good night, even though I’ve already threw up twice. Someone suddenly pulled my head down to the table where there was two fat pararel of white powder neatly lined. I cleaned the lines with one steady snort on each hole of my nose. Uncontrollable itch started to spread all over my face and within minutes, all those draggy drunkenness was wiped out and replaced by a whole new energy jolt running through every inch of my vein. I was ready for a long, debauchery night. My nose was a bit runny, but damn it felt good.

After more monkey dancing and flirted with some girls, we decided to hit Oxford St, where the centre of Mardi Grass parade happens. It was within walking distance, so in 20 minutes, we were right bang in the middle of the action. Male/ female, gay/ straight, butch/ dykes, nancy boys/ trannies, all parading the street of Oxford in their most peculiar but fabulous outfit. I observed it all through my coked-up eyes, all the glitz and bits and flash of color spectrum made out of these thousands human spectacles. Dancing the night away, feeding the atmosphere with love, compassion empathy, and universal unification. Lights and firecrackers looks awesomely great, especially when you’re on drugs. The whole cityscape was illuminated by colors
We frolicked through Oxford St, down to Hyde Park, turned right at Commonwealth St towards the City Hall. We got to our next destination, which the Dendys Club, an underground club just underneath the Dendys Cinema. Inside, we met Rudy, our Ectasy dealer, twitching about like a maniac on the dancefloor. His pupils were expanded as big as a 50cent coin and his lips were swollen. He claimed that he just popped this tablet called Microdot or ‘The Dot’, which apparently made out of nearly 90% amphetamine mixed with other hallucinogenic substances that’ll gives buzz for almost 12 hours straight if you take the whole damn thing. It cost 45 buck each. A bit pricey for Sydney standard. So me and William decided to split it half. We popped it immediately then danced to the Breakbeat tunes courtesy of Simon Caldwell, a well-known Sydney DJ. Sure as hell, after 20minutes of rapid body activities, the drugs started to creep in. I noticed it first from my eyesight which slowly getting blurred and unfocused. Then my feet started to float. Soon enough, I felt light electricity tickling all over my nerves, sending even more energy buzz, as the music seems to slipping in through every pore of my skin. In half an hour, I was in amphetamine heaven. Nothing can touch me. It was only me and the music. Flowed on. Tune in, turn on, no drop out. I danced and danced and danced for it feels like hours.

I can’t remember exactly what time it was, when I decided to slouch on the nearby couch for a quick crash. That was the moment I saw her. She walked in from the upper-stairs, her long brown hair was glowing in angelic manners. Wearing cheerleaders costume, swaying elegantly and all loved-up. She was with a group of friends from my Uni, so the connections were soon established. Her name’s Sarah Jane Middlebrook. Amidst of my frantic gesture on drugs, I desperately tried to chat her. I’ve been with many girls with different characters and usually led to visionary premonition. I always knew which one that was special and would makes me fall in love head over heels. I know I felt it with her. It’s beyond logic and words description. You just knew it if it’s there. You got that same feeling like your mania after a successful attempt on your first bicycle ride, or that delightful excitement on waiting for your favorite cartoon TV as a kid. The overjoy feeling of dancing to your favorite song. That gratitude humbleness when looking at the landscape from a mountain top. That was love. It was love that just hit me and turned me upside own.

We ended up talked intimately for the rest of the night. The fact that we were both on hallucinogenic drug made the moment felt magical, even though it might be an exaggeration. But It does felt majestic. She’s a Taurean, and so am I. There was some amyl nitrate in bottle passed around, we took a few puff, rolled our eyes and giggled non-stop like crazy. There were unspoken moments when our eyes accidentally met and locked for a few second. She has tender and delicate brown eyes. The kind of eyes that you would wait the whole morning just to see it opens and gave you that calm and peaceful serene. She smiled and gave me a big cuddle and whispered, “I’m so glad I met you”…and kissed me on my right cheek. I was floored. I knew that she’s gona be someone that’ll turn my whole world inside out.

She ended up split around 5 in the morning. We said goodbye. I secretly hoped that she would’ stayed a bit longer. I knew she felt the same way too, as we couldn’t take our eyes off each other as she walked further and further towards the exit door. Finally she disappeared. I sat there, feeling like ten ton trucks just hit me. I can’t pinned down the way I felt at the time. It was like half part of me was taken away. Then something even worse smacked me on the face : I forgot to ask her numbers. Exactly one week later we met again at a friend’s birthday party. It was destiny, I knew it, to met her again. So this time we exchange numbers. We ended up lived together for a year. Then the relationship extended for almost 2 years of long distance before eventually we drifted apart and broke up. But she was the love of my life. The only one that made me realize that, yes, there is one true love for everyone throughout each of their life.

Senin 5 Maret 07

Melalui perjalanan selama hampir 6 jam, kami memasuki wilayah Singapore sekitar pukul 7 pagi. Setelah dijemput van, kami diantar ke apartemen unit yang terletak dalam komplek pertokoan Lucky Plaza di pusat perbelanjaan Orchard road. Begitu sampai dan mendapat kamar masing-masing, seluruh crew dan personil yang berjulah 10 orang langsung ‘tewas’ tertidur hingga jam 2 siang. Begitu bangun, kami langsung bersiap untuk melakukan jadwal pertama dalam agenda : shopping! Setelah berkeliling Orchard dan naik MRT ke daerah City Hall, kami langsung menuju venue untuk soundcheck pukul 5 sore.

Lokasi venue terletak dalam areal kompleks bangunan pemerintahan di Old Parliament Road. Di sebuah gedung pertunjukan tua bernama The Art House yang biasa menampilkan pertunjukan musik orkestra, event kultural dan pemutaran film avant garde. Tentu saja kemungkinan The Brandals tampil dalam The Art House sangat kecil. Instead, kita ditempatkan di Earshot (terletak dalam komplek Art House), sebuah toko buku ala Aksara di Kemang yang biasa menampilkan indie act lokal/ internasional secara periodik.

Setelah soundcheck, kami melanjutkan perburuan shopping kami ke daerah Bugis dan Raffles City. Selesai makan malam, kami kembali ke venue dan bersiap-siap mengganti kostum. Sekitar jam 9 malam, show dimulai. Tampak Earshot sudah dipenuhi oleh anak2 kuliahan dengan tampilan preppy college kids (cardigans/knitted sweater, baggy pants, horn-rimmed glasses, sneakers) yang memenuhi tiap sudut toko. Pin Holes membuka show dengan format akustik mereka yang mengingatkan saya pada Pure Saturday dan era awal REM. Diteruskan oleh duo folky Plain Sunset yang sudah merilis 2 album lewat label indie lokal. Atmosfir penonton tampak sangat rileks dan tenang. Little do they know what gona hit them after.

Setelah introduction dari MC, The Brandals muncul. Hair all done up, suited up and ready to rock. Dibuka dengan Moonlight Child, crowd Earshot malam itu tidak menyangka band terakhir memainkan warna berbeda drastis dari pembukanya. Walaupun dalam format semi akustik, tidak menyurutkan spirit The Brandals untuk mengerahkan sisa energi dalam event terakhir rangkaian tur ini. Nomer seperti Hati Emosi dan Lingkar Labirin dibarengi lagu berlirik Inggris seperti New World Declaration dan Career Crackin’ (Bagi kamu yang masih merasa tabu untuk menulis lirik bahasa Inggris, silahkan bingung menghadapi situasi bermain di depan publik internasional). Penonton seperti tersihir melihat aksi enerjik band yang tampil all-out. Namun sayangnya mungkin karena format event yang akustik, suasana toko buku yang agak formil dan crowd yang tidak menyangka akan ditutup oleh band rock n roll, maka hanya sebagain kecil yang bergoyang di tempat. Namun semua terlihat antusias dan puas hingga akhir acara. Di akhir acara kami kembali bertemu beberapa anak mahasiswa Indonesia yang hadir di venue. More photo session with new fans. More autograph signing. More email/myspace/friendster account swap.

Setelah beres-beres, kami diajak panitia makan malam seafood (lagi) di daerah Newton, Sampai di aprtemen, waktu menunjukkan pukul 1. Beberapa dari kami kembali ke bawah untuk nongkrong2 di Orchard rd bersama Marin (Ffwd Record) yang kebetulan sedang berada di Singapore malam itu. Sedangkan sebagian langsung tertidur, bersyukur rangkaian tur berjalan sesuai jadwal tanpa halangan dan rintangan berarti.


Selasa 6 Maret 2007

Terbangun sekitar jam 10 pagi, kami semua merapihkan barang dan menurunkan ke lobi apartemen. Kembali menghabiskan wkatu yang tersisa untuk berkeliling berbelanja. Sekitar jam 1 siang kami menuju World Trade Centre untuk naik ferry yang mengantar kami ke Batam. Di tengah perjalanan ferry, kami mendengar kabar gempa di Sumatera Barat. Sampai di bandara Hang Nadim, kami menunggu flight dan take off sekitar pukul 6 sore. Sampai di Jakarta jam 8 malam dengan selamat. Keesokan pagi mendengar berita musibah Garuda Airlines yang meledak di bandara Adi Sucipto Jogja. Juga korban meninggal di gempa Sumatera bertambah banyak. Something just never change in this country…

Terima kasih banyak kepada Aksara Record (Hanin & Winfred), Ruang Rupa (Indra Amenk, Ade Darmawan, Reza Asifina). Our Singapore contact : Isman, Ade, Natalie Tan and Earshot Bookshop.




Gigger Centre Stage @ Paul’s Place
Jalan Klang Lama KL
Opening : Soulsta/ The Rebellions/ Insecure/ The Official/
The Aggrobeats

Selesai menyantap makan malam sekitar jam 9 bersama teman-teman dari Gasoline Granades, kami menuju venue ke-2 Paul’s Place. Lokasi nya mirip seperti barisan pertokoan di Mayestik Jakarta Selatan yang sudah agak sepi. Begitu memasuki pelataran parkir, kami kembali dikejutkan dengan pemandangan puluhan punkers memenuhi areal venue. Ternyata mereka baru saja selesai menonton gig Distrust, sebuah band crusty punk dari Singapur. Kami berkenalan dengan beberapa anak punk tadi yang sepertinya meng-observasi The Brandals dengan penampilan Mods-nya. Beberapa dari mereka membeli CD dan T-shirt walaupun belum pernah mendengar nama kami sama sekali. That was pretty cool.

Memasuki venue, kami menaiki anak tangga sejauh 3 lantai dan mencapai lantai teratas sebagai arena pertunjukan. Ruangan sebesar lapangan badminton tertutup ini tampak impresif sebagai venue ‘underground’ (atau mungkin ‘overground’). Atmosfir kasar, gelap dan kumuh, dengan tembok dipenuhi graffiti. Tempat ini ternyata milik seorang ekspat asal Inggris bernama Paul yang bertugas sebagai sound engineer dan tata lampu. Walaupun berumur sekitar 50-an, tapi sosok besar dan tambun Paul tampak akrab dengan para scenester lokal yang jauh lebih muda. Diatas panggung ukuran 4mx3m nampak The Rebellions, band punk lokal yang sedang beraksi di depan penggemar mayoritas anak2 skinhead. Setelah itu Insecure mengambil alih panggung dengan gempuran Nu Metal-nya. Diteruskan The Official, band Oi lokal yang disambut meriah dengan pogo massal oleh mayoritas komunitas skinhead KL. The Aggrobeats kembali meriuhkan suasana yang memang sudah panas, sampai akhirnya giliran The Brandals tiba sekitar pukul 11 malam.

Puluhan skinhead agresif dibawah pengaruh alkohol yang menempel di bibir panggung sempat menciutkan nyali para personil The Brandals. Setelah mencoba menyapa akrab kami langsung membuka dengan Hati Emosi untuk cooling down the vibe. Ternyata trick ini berhasil, penonton yang terlihat sedikit lelah tetap responsif bertepuk tangan massal. Pendekatan The Brandals terhadap massa yang panas membuahkan hasil. Tanpa berhenti mereka terus bergoyang ditemani repertoire rock n roll dari album debut dan Audio Imperialist macam Mutasi Urban, Ain’t Nobody’s Bitch, Career Crackin’, Komoditi Fantasi, dll. Walaupun berseragam atribut skinhead, ternyata mereka sangat open-minded dan apresiatif terhadap musik baru. Di bagian encore, terjadi koor massal ketika lagu klasik ‘Money’ dibawakan dan akhirnya menyatukan penonton dan The Brandals dalam satu ikatan pertemanan baru.





Selesai acara, seperti biasa terjadi acara meet and greet dadakan, tanda tangan dan berfoto-foto. Kebanyakan dari para penonton sangat antusias menanyakan keadaan scene Jakarta dan melempar nama-nama band yang mereka ingin lihat penampilan-nya macam The Upstairs, Seringai, Jeruji, Domestik Doktrin, dll. There you go folks, there’s a huge followers on our next doors neighbor. Better give them a visit.

Selesai menaikkan alat-alat ke mobil, kami kembali ke Bangsar dan istirahat sebentar. Teman-teman tuan rumah kami membawa kami ke hang-out spot di pusat kota bernama The Curve. Disitu terdapat banyak club, bar dan café dimana anak-anak muda KL menghabiskan hedonisme malam minggu. Pemandangan nya hampir sama seperti Cilandak Town Square. Hanya saja The Curve lebih bersih dan tutup lebih cepat. Sekitar pukul 1 malam tempat ini sudah harus menutup jam operasional.

2 tugas performance selesai sudah. Masih ada satu panggung terakhir, dimana menurut prediksi teman-teman lokal kami merupakan panggung yang akan dipadati paling banyak penonton. Ada Bittersweet dan the Times, 2 opening band rock n roll yang sedang menjadi pusat perhatian scene musik lokal KL dan mempunyai banyak penggemar. Can’t wait!


Minggu 4 maret 07

Tertidur hanya sekitar 3-4 jam, kami terbangun dengan kepala yang terasa dibebani karung beras satu kwintal didalamnya. Setelah mandi dan bersiap-siap, kami menyantap makan siang di daerah Jalan Telawi, Bangsar Baru yang menurut teman2 kami adalah daerah ‘Kemang’-nya KL. Daerah ini memang dipenuhi sederetan café, resto dan butik2 high-end products. Tapi ya itu tadi, tentu saja lebih teratur dan ter-organisir dibanding Kemang. Tanpa ada kubangan dan lubang aspal di pinggir jalan, tanpa ada preman, tanpa tukang parkir agresif (sistem parkir sudah menggunakan automatic parking meter).

Selasai makan siang kami dibawa ke Central Market (semacam pasar tradisional) yang menjual berbagai macam pernak-pernik suvenir. Disini kami dipertemukan dengan Joe Kidd, seorang figur scene lokal legendaris yang mempunyai semacam toko distro bernama ‘Ricecooker’. Sayangnya interior toko sedang direnovasi sehingga kami tidak bisa melihat banyak. Kami juga melihat ruang galeri ‘Annexe’ dimana Rasman bekerja sebagai kurator dan manajer operasional (Everybody Loves Irene bermain di tempat ini seminggu sebelumnya). Lalu kami melihat persiapan komunitas LSM Food Not Bomb yang mempunyai program membagikan makanan vegetarian gratis kepada masyarakat sekitar setiap hari Minggu.





Setelah puas memperkaya wawasan kultural di Central Market, kami berangkat untuk soundcheck ke venue terakhir di KL, Little Havana. Sampai di venue sekitar jam 5 sore, kami melihat Bittersweet dengan indie Britpop-nya sedang melakukan soundcheck, disambung The Times yang terdengar sangat nge-rock ala Rolling Stones. Setelah giliran kami selesai, semua pun bersiap-siap untuk panggung terakhir dengan antisipasi penuh, karena menurut info dari teman2, tempat ini akan penuh sesak denga crowd pecinta musik Kuala Lumpur.

Little Havana
Cangkat Bukit Bintang KL
Opening : Bittersweet/ The Times/ The A.C.A.B

Little Havana yang terletak di daerah Cangkat Bukit Bintang adalah venue 2 lantai yang mengingatkan kami pada Cafe Batavia di daerah Kota. Terlihat kuno dan klasik interior-nya. Tapi tetap ada atmosfir modern, mungkin karena mayoritas crowd yang datang malam itu adalah anak muda. Cangkat Bukit Bintang sendiri adalah salah satu daerah KL dimana disepanjang sisi jalan tersebar Café dan restoran tempat anak muda KL dan turis/ekspat duduk2 menghabiskan malam di bangku yang tersedia di trotoar.

Band Aksara Record lain Sore, sempat main di Little Havana dalam rangka promosi film Berbagi Suami rupanya masih meninggalkan kenangan di pecinta musik KL. Banyak diantara mereka yang menanyakan artis2 Aksara Record lain dan menyarankan untuk bermain di KL. That would be a good plan to be included in the agenda.

Anyway, crowd mulai menaiki tangga ke lantai 2 venue sekitar jam 7.30 malam. Dan memang terbukti antisipasi kami semua : hanya dalam waktu hitungan menit, lantai venue sudah disesaki oleh penonton. Bukan hanya penonotn lokal, beberapa ekspat tampak hilir mudik. Tua muda bercampur disana. Dengan atribut fashion beragam, tampilan anak2 muda KL tidak jauh beda dengan crowd di Jakarta. Personil sempat berfoto dengan beberapa komunitas mahasiswa Indonesia yang kuliah disana. Menurut mereka, memang sudah tersiar kabar tentang kedatangan The Brandals di KL sejak sebulan sebelumnya.

Bittersweet membuka event sebagai band pertama, menggebrak dengan racikan indie rock ala band2 British macam Oasis, Blur dan Stone Roses. Band asal Ipoh ini baru saja merilsi album A Perfect Match dan menyempatkan diri untuk menjadi band pembuka malam ini. Diteruskan dengan The Times, band KL yang juga tampak sudah punya banyak penggemar. The A.C.A.B tampil berikut. Menurut kabar, band ini menyandang gelar legendaris di scene lokal KL sebagai salah satu band Oi di awal karirnya dan bermutasi karakter menjadi indie rock. Band ini memainkan banyak lagu yang dibarengi koor oleh para penggemarnya. Padatnya jumlah penonton membuat sulit untuk bergerak dan bernapas. Semakin malam, jumlah crowd bertambah padat dan menambah panas atmosfir yang memang sudah menggila sejak Bittersweet bermain.

Akhirnya sekitar jam 9 malam, tiba giliran The Brandals tampil. Setelah menyiapkan peralatan, kami sempat terkejut mendengar banyak teriakan penonton yang meminta lagu-lagu The Brandals. Rupanya sudah banyak para mahaiswa Indonesia yang sudah berdiri di depan panggung, siap untuk bergoyang. Tentu saja mereka sudah familiar dengan banyak lagu kami. Dibuka dengan Black Boy Dynamite Blues, rombongan mahasiswa ini tumpah ruah pecah di bibir panggung. Sebagian terangkat bodysurf dan stage dive. Untungnya para penonton tuan rumah dan panitia lokal tidak terganggu dengan pemandangan ini. Semua tercampur baur dalam kesatuan histeria massal. Berturut-turut lagu The Brandals macam Lingkar Labirin, 24:00 Lewat, Obsesi Mesin Kota dipompa. Sampai akhirnya total hampir 9 lagu selesai dibawakan hingga akhir acara. Meninggalkan rasa puas bagi penonton dan personil The Brandals sendiri.

Selesai event, kami sempat diwawancara oleh crew TV3 Malaysia yang menyempatkan datang untuk meliput. Dan juga bertukar merchandise bersama band opening dan panitia. Setelah mengucapkan salam, kami pun berpisah dengan panitia dan menghabiskan malam dengan bersantap makan di jejeran restoran seafood sepanjang jalan Sungai Wang, daerah Cangkat Bukit Bintang. Selesai makan, kami diantar langsung kembali ke terminal Puduraya untuk meneruskan perjalan ke Singapura dengan bis antarkota yang dijadwalkan berangkat jam 11.30. Setelah berpisah dengan teman2 baru kami di KL, roda bis pun bergulir keluar kota KL menuju Singapore dimana kami dijadwalkan bermain ke-esokan harinya. Ciao KL !!!!

Much thanks to Junk Magazine (Ili, Adlin, Irman), Gasoline Grenade (Rahman, Pijan), Iza Abidin, Aisha, Clockwork Record (W.P Tang), The A.C.A.B, The Times, Bittersweet, The Aggrobeats, The Official, The Rebellions, Solsta, Insecure, Skudap-Skudip, Lied.


Les Fauves du Jakarta
The Brandals Singapore & Kuala Lumpur Tour 2007
2 – 6 Maret 2007

Persiapan selama hampir 6 bulan untuk tur pertama The Brandals ke luar negri tanpa terasa terus mendekat. Kami mem-booking sendiri return flight melalui Batam, Juga tiket bus yang mengantar kami antar perbatasan Singapura-Malaysia. Selain itu, berkat pertolongan teman-teman kolektif seniman Ruang Rupa, kami juga mendapat kontak beberapa nama di instansi pemerintah yang berbaik hati untuk mengeluarkan surat sponsor kebudayaan (Terima kasih banyak buat Indra Amenk, Reza Asifina dan Ade Darmawan).

Terlaksana nya tur ini pun terjadi atas kerjasama manajemen The Brandals dan Aksara Records, dengan sebuah label indie lokal Kuala Lumpur ‘Clockwork Records’ yang dibawahi oleh seorang enterpreneur muda bernama W.P Tang.
Alhasil, dengan semangat DIY, tur ini berhasil dijalankan tanpa ada hambatan yang berarti.

Jumat 2 Maret 07

Pesawat yang kami tumpangi lepas landas dari bandara Sukarno Hatta pukul 5 sore, membawa kami ke bandara Hang Nadim Batam 1 jam kemudian. Disana Mumu, road manajer kami telah menunggu dengan beberapa kerabat yang langsung memindahkan tas dan bagasi kami ke mobil. Tanpa jeda, kami meneruskan perjalanan diangkut 3 mobil menuju pelabuhan The Harbour untuk menyebrang ferry ke Singapura.

Bagi yang pernah berkunjung ke Singapura melalui rute Batam, perjalanan ferry ini mungkin bisa dibilang seperti menaiki alat transporter lain dunia. Dari titik keberangkatan yang keadaan ekonomi, lingkungan dan struktur pembangunan nya carut-marut dan tidak ter-tata, menuju titik tujuan yang telah lama dikenal sebagai kota perdagangan metropolis ter-bersih di dunia. Bila perjalanan ferry ini kamu habiskan sambil dipengaruhi substansi halusinogenik tinggi, niscaya kamu akan merasa seperti terbang dari Toxic Wasteland menuju Urban Neverland.

Sampai di pelabuhan ferry World Trade Center Singapura sekitar jam 9 malam (jam 8 waktu Indonesia)). Sempat khawatir kalau merchandise yang kami bawa (sekitar 1 koper penuh dengan puluhan T-shirt Brandals dan CD album) akan bermasalah ketika melewati imigrasi. Tapi alhamdulillah koper dengan mulus melewati mesin X-Ray tanpa dihentikan. Malah gitaris kami Bayu yang diserang berbagai macam pertanyaan detil tentang kunjungan nya ke Singapur oleh petugas imigrasi. Walaupun akhirnya Bayu pun lolos dari interogasi. Kami lantas menaiki van rental besar yang membawa kami ke terminal bis antar Negara Golden Mile. Disitu telah menunggu bis full AC berkapasitas +/- 40 penumpang. Tepat pukul 11malam, bis bergerak memulai perjalanan. Melewati daerah suburban Singapur yang dipenuhi apartemen pencakar langit subsidi pemerintah-nya dan akhirnya menuju kegelapan rural melintasi jalan tol menuju destinasi pertama : Kuala Lumpur!
Sabtu 3 Maret 07

JAM ASIA
Komples Pertokoan Sri Hartamas, Kuala Lumpur
Opening : Lied/ Skudap-Skudip/ The Aggrobeats

Setelah melalui sekitar 5 jam perjalanan antar negera dan berhasil melewati imigrasi Malaysia, sempat kembali tegang karena merchandise ‘selundupan’, kami tiba dengan selamat di terminal Puduraya Kuala Lumpur sekitar pukul 5 subuh sabtu pagi. Disitu menunggu sekitar 30 menit untuk teman-teman yang menjemput. Tak lama muncul 2 teman kami Pijan dan Razman dari band punk rock lokal Gasoline Grenade yang membawa 2 buah mobil. Karena kapasitas mobil terbatas, terpaksa dilakukan 2 kali trayek bolak-balik untuk mengangkut bagasi dan perlatan musik.

Akhirnya kami dibawa ke daerah Bangsar dimana Rahman tinggal. Sebuah rumah 2 tingkat yang direnovasi menjadi ruang studio lukis dan galeri mini.
Sekeliiling ruangan dipenuhi oleh lukisan dan instalasi mix media hasil karya seniman lokal bernama Jeri, sang pemilik rumah yang sayangnya sudah almarhum. Very minimalist and looks sophisticated, di dominasi warna merah. Setelah berbincang hampir satu jam bersama Pijan dan Razman tentang scene musik Kuala Lumpur yang ternyata cukup vibrant dengan segala bakat serta konflik internal-nya, kami pun akhirrnya tertidur.

Sekitar pukul 11 siang Ade, personal manager The Brandals, mulai membangunkan seluruh tim untuk bersiap-siap. Soundcheck untuk panggung pertama akan dilakukan jam 1 di Jam Asia. Sebuah pub berlantai 2 di daerah bisnis pertokoan Hartamas. Sebuah ‘kereta’ (mobil) milik Aisha dan Iza ,2 gadis cantik teman Rasman, datang untuk menambah armada transportasi. Kami juga bertemu seniman lokal bernama Ise yang sering bertandang ke Ruang Rupa Jakarta. Juga Ili, seorang kontributor majalah Junk, yang sering membantu band2 Indonesia sepreti Mocca ketika mereka tur ke KL.

Setelah meninggalkan rumah, barulah kami bisa melihat sebagian landscape dari kota Kuala Lumpur dengan jelas. Untuk kami yang pertama kali berkunjung ke KL, betapa terkejutnya ketika melihat kemajuan pembangunan negara tetangga terdekat kita ini. Indonesia ternyata tertinggal jauh dalam hal penata-an kota. Sangat jarang kami melihat sampah berserakan. Ruang hijau-pun terlihat luas dan asri untuk suplai oksigen penduduk-nya. Tata ruang kota dibentuk menyerupai sistemasi blocking area di Eropa. Masih kental nafas kolonialisme Inggris yang bertebaran di banyak sudut kota diwakili gedung-gedung tua ala Victorian. Selain itu keseragaman kultur bisa terlihat dari bertebaran restoran melayu, India dan cina di penjuru kota, beserta bangunan-bangunan tua-nya yang terawat rapih. Bisa dibandingkan dengan kondisi bangunan tua di Jakarta (derah Kota Lama) yang dibiarkan rontok dan kolaps oleh pemerintah DKI. Sepanjang perjalanan yang hanya kami bisa lakukan hanya menggeleng kepala penuh iri menyaksikan keberhasilan pemerintah Malaysia menata ruang hidup warga-nya.


Sampai di daerah pertokoan Hartamas sekitar jam 1, kami lanjukan dengan makan siang Nasi Lemak yang menjadi makanan nasional Malaysia. Sempat dibingungkan dengan berbagai istilah menu minum teh (teh kosong, teh tarik, teh ais, teh o ais, dll) kami langsung menuju Jam Asia. Sebuah pub 4 lantai dengan pintu masuk kecil dihimpit oleh ruko di kanan kiri-nya. Setelah berada di bar lantai 2, sangat terasa atmosfir pub rock seperti di BBs Menteng atau Laga di Braga, dengan poster musisi dan band memenuhi tembok. Disitu kami bertemu dengan Tang sang promotor dan crew-nya, yang juga para personil dari band opening The Aggrobeats. Clockwork Record yang dibawahi Tang merupakan label yang memayungi band punk, skindhead dan rock n roll lokal Malaysia. Nama seperti The Official, Steeltoe Solution dan The Times merupakan artis dibawah label tadi. Karena itulah para crew (atau panitia evet) banyak terdiri dari anak-anak skinhead asuhan Tang.

Soundcheck langsung dilakukan sekitar 3 jam untuk semua band. Tepat jam 5 sore (mundur 2 jam dari jadwal), acara dimulai. Dibuka dengan Lied, band metal yang digawangi vokalis Adlin, editor Junk magazine, majalah musik lokal KL yang membantu promo tur The Brandals. Lied telah merilis satu album indie dengan warna metal ala Deftones dan Incubus. DIlanjutkan dengan band ska lokal Skudap-Skudip yang membuat penonton mulai panas berdansa. The Aggrobeats muncul berikut sempat mencuri perhatian dengan membawakan nomer-nomer lagu milik band California The Aggrolites (Funky Fire, Don’t Let Me Down). Walaupun crowd hanya memenuhi sekitar seperempat kapasitas (menurut panitia karena banyak yang belum familiar dengan lokasi venue), tapi band-band tadi berhasil membakar tensi penonton.

The Brandals naik panggung tepat sekitar pukul 7.00. Crowd yang langsung merapat kedepan menambah panas temperatur dan dengan introduksi pendek,dari Eka, langsung menggebrak dengan ‘Moonlight Child’ yang diambil dari album pertama. Sekitar 8 lagu digeber The Brandals, dengan mengkombinasi koleksi lagu-lagu dari 2 album, dengan respon cukup antusias dari penonton yang tidak berhenti bergoyang maniak. Walaupun hanya sebagian kecil yang kenal lagu-lagu The Brandals, tapi tidak menyurutkan intensitas penonton. Apalagi ketika medley lagu Stoned Travel dan Johnny B.Good milik Chuck Berry dimainkan, kegilaan penonton yang stage dive tidak bisa dihindari. Setelah 45 menit durasi selesai, dan keringat mengalir deras, personil, panitia dan penonton berkenalan berbagi minuman dan bertukar cerita. Beberapa anak membeli merchandise serta CD dan langsung meminta tanda tangan personil The Brandals.

Selesai panggung pertama, kami langsung meluncur kembali ke rumah di Bangsar untuk berganti kostum dan bersiap-siap untuk panggung ke-2 : Paul’s Place !


Case :
Full version interview with lonelyplanet.com
on Jakarta Youth Culture & Independent Music Scene
Correspondent :
*Stirling Silliphant (Lonely Planet ,Reporter)
*Eka Annash (The Brandals, Vocalist)
Duration : 60 minute
Date : December 2006
Media : Email
For journal report on the article, click to
http://www.lonelyplanet.com/journeys/feature/jakarta_indie0107.cfm

1) How do you define the term 'indie'? Do you think it has particular relevance in the context of Jakarta, where this a strong clash between mainstream culture (consumerism, malls, obsession with foreign brands/products) and those who are shut out (ie, too poor) to partake in this mainstream culture?

The term indie means- quite simply- being independent. In music industry, it refers to its component that doesn’t have any significant connection/ support (financial/sponsorship/promotion) to/from the big corporate players.

I suppose this whole independent/DIY ethic was triggered by new generation of youngster whose actually fed-up by instant popular culture, superficial society values and material capitalist system that is ripe on the beginning 21st century. Regardless of which economic background they’re coming from (rich/poor).

But then again, its also source of contradiction, since these indie/counter culture movements are actually products of western sub-culture that has been adopted globally. So I reckon it’s quite relevant that its finally spread unfiltered through ‘information-starved’ developing city like Jakarta. It’s inevitable and bound to happen. At the end, you’ll be a witness of an odd, peculiar cultural-clash trend that is quite surreal. Almost become an irony and ridiculous to watch. Most of these people completely missed the identity of the (sub)-culture they’ve adopted.


2) Are their unique aspects of life in Jakarta that make being in a band easier? Or harder? How do you think things would be different for The Brandals if you were in New York, London or Tokyo?

It is relatively harder In terms of our determination to carry our music and messages across to a wider audience. We do have our own dedicated followers, which mainly came from young audience (teenagers 15-25yo). However, The Brandals’ music is difficult to access by a wider demographic because these group of audience are people who would only accept formulaic radio-friendly music provided by the major label products.
It also has relation to narrow appreciation that came from poor education and limited reference to history and trend in global popular contemporary music. And of course related to eastern, predominant moslem traditional values. Or maybe they’re just downright ignorant.


We (the independent bands), of course, holds high credible idealistic stand in our creative process. Which doesn’t always goes hand in hand with the mainstream industry’s ‘capital & profit first’ approach. That creates another obstacle in distribution of our music.

There are few flexibility changes are made though, especially from the alternative media. More radio stations and zines starting to open its door to provide indie bands exposure. On-line medias also offers unlimited promotion possibilities with free websites such as My Space, Friendster, Multiply, etc.

One thing that is considerably easy to obtain and indulge from Jakarta’s music scene is the drugs and alcohol. Although anti-drugs campaign doesn’t do justice to the rigorous illegal substances supplies, provided by Jakarta’s government back-door dealer. It only makes the whole scene worse. But that’s also probably because the drugs aren’t as good as they used to be. If The Brandals lives in any of those cities, we would’ve been the same rocking and rolling working-class band that people loved. Only probably we would’ve done more drugs, more world-wide touring and shagged more birds…;P


3) Does Jakarta have anything resembling a 'space' or 'community' for like minded people involved in music, film, print, visual arts and fashion scenes to come together to share ideas and create?

Well, there are the Jakarta Art Institute scene which gave birth to the Ruang Rupa artist collective, home to bands like Goodnight Electric, White Shoes & The Couple Companies, That’s Rockefeller, The Adams, etc. The art institute spawned many artists collective for the last few years.
More significant, there are many graffiti artist collective recently started to make their marks on city’s wall & street surface.

Apart from that, Jakarta’s scene are divided by communities scattered all over the city. It usually revolves around a hang-out place (i.e distro shop, record shop, music rehearsal/recording studio, warung/food vendor, bar, live music clubs & pubs, etc). These hang-out spots are usually consisted of various talents and hangers-on. From fashion stylist to movie/music-clip director to bubble-gum teeny boppers to insidious poor-hygiene junkies to supermodel wannabe to desperate artists. It’s a whole mix-mash of individuals with amusing background.

Then, of course, we normally go to gigs or other creative ‘happening’ (I fuckin hate that word! Just trying to sound hip..hehe) and that usually become a melting pot of various magical moments.

The thing that I love by going to gigs is the discovery of new talents that is still raw, spontaneous, unpolished, and dangerous. It reminds me of our good-old reckless and shambolic days.

4) Tell me more about your experience signing over to a major label. How did the initial hopes of this maneuver contrast with the actual outcome of the experience?

We couldn’t really pin down your question as we haven’t fully signed to a major label. We had distribution-only deal with Warner Music Indonesia for our 2nd album ‘Audio Imperialist’. But the album was produced by a small indie label called Flystation Record. Our debut was released by Sirkus Record and re-released in CD format by Aksara Record, both are respectively local independent label in Jakarta. We’re still promoting our own shows, put up our own fliers, book our own tour, buy our own instrument, published our own propaganda, etc.

We never really aim at high stake with each release, in terms of exposure and publicity. As I said earlier, with the kind of music The Brandals are playing, It’s relatively difficult to be accepted by mainstream audience, especially here in Jakarta.

But to this extent, playing music that pours right-down from our heart and still getting paid for is good enough for us. Let alone releasing two albums and touring all over the country. To be honest, our only ambitious plan would be having the same productivity and credibility that bands like Sonic Youth has. Y’know..grow old gracefully and still keeping it loud, alive and kickin’.

Blog EntryStanley Kubrick's 78th Anniversarry Today !!!Jul 26, '06 5:12 AM
for everyone
Hari ini, jika masih hidup, Stanley Kubrick genap berumur 78 tahun. Dibawah adalah biografi singkat tentang perjalanan karir-nya. Pernah dimuat dalam fanzine Cosmic, Januari 2003. Ditulis oleh Eka Annash, disadur dari berbagai sumber. Enjoy!

Karya Kubrick dianggap tidak hanya sekedar produk industri hiburan atau karya seni, tapi menjadi sebuah institusi dan jalan hidup bagi sebagian para pecintanya. Banyak film-nya diklasifikasikan dalam genre ‘Cult’ ( film artistik yang mempunyai penggemar setia sepanjang masa ). Sayang sekali memang film-film hasil besutan Kubrick baru bisa dinikmati oleh sebagian kecil publik sinema tanah air. Padahal figur Stanley Kubrick beserta karya-nya sudah menjadi fenomena legenda dunia sinema.

Lahir pada tanggal 26 Juli 1928 di New York dan besar di daerah kumuh Bronx. Ketika berumur 16 tahun, Kubrick mengambil foto sebuah kedai koran yang dipenuhi oleh berita meninggalnya Presiden Franklin D. Roosevelt. Hasil jepretannya dikirim ke majalah Look, yang langsung dimuat dan menyewa-nya sebagai staf fotografi termuda yang pernah mereka punya.
Setelah menyusun sebuah essay fotografi tentang petinju Walter Cortier untuk Look, Kubrick menjebol tabungannya untuk men-danai sendiri film dokumentasi 16 menit berjudul ‘Day Of The Fight’ (1950) berdasarkan essay yang dibuat tentang persiapan sang petinju sebelum naik ring.

2 dokumenter lain, masing-masing berjudul ‘Flying Padre’ dan ‘The Seafarers’ menyusul sebelum akhirnya ia membuat film panjang pertamanya selama 68 menit yang berjudul ‘Fear and Desire’ di tahun 1953. Sebuah film fiktif terinspirasi dari perang Korea, dimana Kubrick memborong tugas sebagai sutradara, penulis naskah, sinematografer dan editor. Untuk urusan finansial, ia berhasil merayu ayahnya yang fisikawan dan anggota keluarga lain untuk menyumbang dana pembuatan film fitur pertamanya ini.

‘Killer’s Kiss dibuat dua tahun kemudian, dilanjutkan dengan sebuah noir thriller berjudul ‘The Killing’ di tahun 1956. Lewat 2 film crime thriller low budget ini, Kubrick boleh dibilang sebagai salah satu generasi pertama pembuat film independent.

Dengan modal film-film tersebut, Kubrick mulai bergerilya memutar filmnya di beberapa teater Art-House seputar New York dan dengan cepat menjadi bahan pembicaraan publik film lokal. Bahkan majalah Time meliput dan memuji Kubrick “Telah memperlihatkan imajinasi tanpa batas lewat dialog dan kamera untuk Hollywood sejak Orson Welles meniggalkan kota”.

Tahun 1957 Kubrick mulai merambah industri film dengan karya studio besar pertamanya “Paths of Glory” yang dibintangi Kirk Douglas, salah satu aktor ternama Hollywood saat itu. Ber-setting pada Perang Dunia pertama dan juga merupakan film propaganda anti perang yang paling powerful dalam sejarah sinema Hollywood. Begitu terpesona-nya Kirk Douglas oleh hasil akhirnya, ia langsung merekrut Kubrick untuk menyutradari “Spartacus”, sebuah film epik di tahun 1960. Pada periode itu, produksi raksasa film epik memang sedang booming di Hollywood. Namun ini adalah satu-satunya film dimana Kubrick tidak mengambil alih kontrol sepenuhnya karena kolaborasinya dengan Douglas.

Spartacus terbukti menghasilkan sukses besar dan meraih 4 penghargaan Academy Award untuk Aktor pembantu terbaik, Sinematografi terbaik, Tata artistik terbaik, dan Kostum terbaik. Dari sini, karir Kubrick sebagai sutradara secara konstan terus menanjak tanpa henti.

Arus kreatifitasnya berlanjut lewat dua karya komedi satire gelap yaitu Lolita (1962) dan Dr. Strangelove or: How I learned to stop worrying and love the bomb (1964).
Lolita, diadaptasi dari novel legendaris karya penulis kelahiran Rusia Vladimir Nabokov dari tahun 1952, bercerita tentang kisah asmara seorang duda setengah baya yang jatuh cinta pada gadis kecil di bawah umur, 14 tahun tepatnya. Dengan performa prima dari aktor chameleon Peter Sellers dan aktris muda Sue Lyon sebagai Lolita, film ini langsung meraih sukses sekaligus memicu kontroversi besar karena dianggap sebagai pelecehan moral dan mempromosikan kecenderungan phaedophilia ( kelainan psikologis dimana seorang dewasa mempunyai dorongan seksual terhadap anak dibawah umur).

Sementara itu Dr. Strangelove memperlihatkan sisi komedi absurd Kubrick yang mengejek dan mencemooh perang dingin nuklir. Kembali dibintangi aktor serba bisa Peter Sellers (bermain sebagai 4 karakter berbeda!), film ini meraih nominasi di Academy Award untuk Sutradara Terbaik.

2001 : A Space Odyssey yang diproduksi tahun 1968 mulai menunjukkan kelas Kubrick sebagai sutradara papan atas dengan bobot kualitas terberat. Dengan tema Science Fiction / Futuristic, Kubrick menghasilkan karya sinematografi spektakuler yang melompat jauh ke depan dari jamannya. Setiap shoot menunjukkan keindahan detail sudut, warna dan komposisi yang akurat. Space Odyssey dianggap sebagai salah satu film cult futuristik abadi yang tak akan lekang oleh jaman. Dan lagi-lagi Academy Award menominasikan Sutradara Terbaik dan Spesial Visual Efek terbaik tahun itu. Film ini menggondol penghargaan Spesial Efek terbaik.
Pada tahap puncak intensitas kreatif-nya di tahun 1971, lahirlah karya sinema Kubrick yang paling kuat dan kontroversial, A Clockwork Orange. Mengisahkan petualangan bocah 14 tahun Alex De Large bersama geng ‘droogs’ berandalan-nya berkeliling kota merampok rumah gedongan, menganiaya gelandangan, memperkosa janda dan perawan, dan (get this!)...minum susu di bar!

Film yang diadaptasi dari novel karangan Anthony Burgess ini diangkat ke layar lebar oleh Kubrick dengan penuh ketajaman dan presisi, sehingga jiwa buku yang sarat dengan kekerasan, pelecehan moral, agama dan seksual, serta cermin boboroknya nilai sosial masyarakat terwakili dengan utuh. Sejak dirilisnya film ini ditahun 1971 hingga tahun 2000 kemarin, film ini dilarang beredar di bioskop umum dan diberi rating X karena elemen kekerasan dan referensi seksual didalamnya. Pihak keluarga Kubrick sendiri menerima beberapa ancaman pembunuhan lewat telepon setelah perilisan film tersebut. Namun bagi publik pecinta sinema, film ini merupakan salah satu masterpiece dari abad ke-20 yang tanpa ragu lagi menunjukkan kelas Kubrick sebagai sutradara jaminan mutu. Cari filmnya sekarang juga…ngerampok kalo perlu!

Perfeksionisme Kubrick sebagai sutradara merupakan elemen yang sudah menjadi trade mark di setiap filmnya. Penataan dekorasi set, sudut pengambilan gambar yang simetris, elaborasi tracking shot dan harmonisnya komposisi warna, itu semua sudah menjadi ciri khas karakteristik Kubrick. Belum lagi kekuatan performa akting para aktor dan aktris di setiap film. Metode multi-take scene Kubrick yang melegenda itu seolah menjadi tekanan sekaligus tantangan bagi para aktor / aktris yang berkolaborasi. Terkadang diperlukan lusinan take hanya untuk satu scene demi mencapai kesempurnaan materi yang akan di-edit. Karakterisasi diatas-lah yang memberi gelar “The Master” untuk Kubrick dalam dunia sinema.

Tahun 1975 diproduksi Barry Lyndon, sebuah film epik sejarah tentang seorang pejuang Irlandia dari abad ke-18 yang dibintangi oleh Ryan O’Neill. Film ini kental dengan unsur sinematografi artistik, apalagi dengan digunakannya lensa kamera khusus Zeiss 50mm 0.7 lens yang dibuat oleh NASA untuk pengambilan gambar dengan setting low lighting (banyak pengambilan gambar yang hanya ditemani cahaya lilin dan alaminya sinar matahari). Kubrick berhasil mengangkat periode otentik di film ini dengan pengambilan lokasi shooting yang sebenarnya di kastil-kastil tua seputar Irlandia, Inggris dan Jerman serta lewat pemilihan kostum dan properti lainnya.

Film ini langsung menyabet 4 penghargaan Academy Award untuk Sinematografi terbaik, Tata artistik terbaik, kostum terbaik, dan tata musikal terbaik. Sampai titik ini, nama Stanley Kubrick sudah disegani oleh publik sinema dunia dan dikenal sebagai sutradara perfeksionis bertangan dingin dan ‘sulit’ untuk berkompromi.

Absen selama 5 tahun, Kubrick menggebrak lagi di tahun 1980 dengan The Shining. Film yang oleh para kritikus dipuji sebagai “The Ultimate Horror Film”, dan memang tepat banget pujiannya. Dibuat berdasarkan novel dengan judul sama karya Stephen King, The Shining diproduksi selama hampir setahun di sebuah hotel mewah terpencil di pegunungan Hood, Oregon melalui musim dingin menggigit dan bersalju. Film yang menghabiskan film reel sepanjang hampir 1,3 juta kaki ini dibintangi oleh Jack Nicholson sebagai kepala keluarga kerasukan setan yang mau mencoba membantai istri dan anak semata wayangnya dengan sebilah kampak.
Disini Kubrick berhasil membangun teror lewat adegan-adegan yang lambat laun dikonstruksi untuk memancing penasaran dan rasa takut penonton. Teror dan horor dari visual yang disajikan dijamin bakal membuat rasa takut menjalar dari ujung rambut ke ujung jari. Ngga percaya?..Tonton aja sendiri.

Setelah the Shining, Kubrick kembali hilang selama hampir 7 tahun. 1987 turun gunung lagi dan membuat “The Best Vietnam War Movie Ever” (versi majalah Time) yang diberi judul Full Metal Jacket. Film perang klasik Vietnam ini menampilkan akting brilian dari para aktor muda saat itu seperti Matthew Modine, Adam Baldwin, Vincent D’Onofrio sebagai prajurit muda Amerika yang digembeleng dalam camp pelatihan perang. Full Metal Jacket lebih menitik beratkan pada proses dehumanizing militer yang merubah manusia menjadi mesin pembunuh tanpa belas kasihan.

Walaupun beberapa adegan diambil di Vietnam, tapi hampir seluruh produksi film ternyata berlokasi di Inggris. Full Metal Jacket mendapat nominasi Academy Award untuk adaptasi naskah terbaik. Naskah film ini memang disadur dari novel berjudul The Short Timers karya penulis koresponden perang Vietnam Gustav Hasford dari tahun 1979.

Memasuki dekade 90an, Kubrick hanya membuat satu film yang juga merupakan karya terakhirnya sebelum menutup usia. Di tahun 1997, diberi penghargaan D.W Griffith Award untuk Lifetime Achievement dari Organisasi Perkumpulan Sutradara Amerika. Di tahun yang sama, dimulai produksi Eyes Wide Shut yang dibintangi pasangan suami istri Tom Cruise dan Nicole Kidman. Bercerita tentang pengalaman psikoseksual Dr. William Hartford (Cruise), melalui serangkaian jalinan cerita erotik yang surealis, menggoda sekaligus mencekam. Sebuah cerita dimana nafsu represif bertabrakan dengan tanggung jawab moral.
Kubrick kembali menghadirkan orkestra visual yang apik lewat tracking shot yang bergerak perlahan dan anggun, akurasi kaya-nya warna, serta detilnya dekorasi set. Walaupun filmnya berlatar belakang kota New York, namun seluruh proses produksi kembali dilakukan di Inggris (Pinewood Studio). Bahkan adegan dimana Tom Cruise berjalan di sepanjang trotoar-pun dilakukan dalam studio, diatas sebuah treadmill dengan backdrop kota New York. Film yang dirilis di penghujung tahun 1999 ini meraih sukses besar, menempati posisi ke-3 dari film Kubrick yang meraih profit finansial terbesar setelah The Shining dan Full Metal Jacket.

Sayangnya, Stanley Kubrick tidak sempat menyaksikan antisipasi pecinta sinema atas film barunya. Ia meninggal dunia dalam tidur ditengah kehangatan keluarganya pada malam tanggal 7 Maret 1999. Berita meninggalnya Kubrick yang tiba-tiba sangat mengejutkan publik sinema dunia, apalagi mengingat Kubrick juga sedang menggarap proyek film berikutnya yang berjudul Artificial Intelligence (A.I). Seperti yang kita sudah lihat, Steven Spielberg melanjutkan proyek tersebut dengan hasil yang lumayan memuaskan, terkecuali pada versi Spielberg diujung film dimana obsesi Spielberg terhadap alien dan sci-fi bikin ending filmnya jadi agak ‘basi’.
Begitulah sekelumit perjalanan karir The Master Stanley Kubrick. Mudah-mudahan pecinta sinema tanah air bisa menikmati karya-karya briliannya. Sekaligus bisa jadi panutan dan referensi untuk berkarya. Integritas, totalitas serta dedikasi Kubrick terhadap karya seni-nya merupakan hal yang patut dicontoh untuk sineas muda. Mungkin agak sulit untuk mencari film-film Kubrick, tapi kalo kamu bener2 mau cari, its really worth your life!..Film Stanley Kubrick bakalan merubah hidup kamu!


Blog EntryShine On You Crazy Diamond (Syd Barrett RIP)Jul 12, '06 3:14 AM
for everyone
Read and weep o you cloudyhead...for the the sky is crying and the moon is mourning...

PINK FLOYD LEGEND SYD BARRETT DIES AT 60

LONDON, England (CNN) -- Syd Barrett, the eccentric guitarist who founded Pink Floyd but later left the music business to live quietly and somewhat reclusively, has died at the age of 60, according to a spokeswoman for the band.

A spokeswoman for Pink Floyd told the Press Association: "He died very peacefully a couple of days ago. There will be a private family funeral."
"Syd was the guiding light of the early band lineup and leaves a legacy which continues to inspire," the surviving members of Pink Floyd -- Roger Waters, David Gilmour, Nick Mason and Richard Wright -- said in a statement.

They were "very upset and sad to learn of Syd Barrett's death." The singer and guitarist, born Roger Keith Barrett on January 6, 1946, founded the band in 1965 with Waters, Mason and Wright. (Its name was derived from two American bluesmen, Pink Anderson and Floyd Council.)

He wrote many of the early hits for the avant-garde rock band, including the 1967 album "The Piper at the Gates of Dawn" and the band's first hit singles, "Arnold Layne" and "See Emily Play." His songs were odd and charming combinations of childlike lyrics and swirling melodies, often augmented with strange arrangements. The titles alluded to space, the occult and sometimes nonsense: "Astronomy Domine," "Lucifer Sam," "Chapter 24."

Consider some lyrics of "Bike," from "Piper": "I know a mouse, and he hasn't got a house / I don't know why, I call him Gerald / He's getting rather old, but he's a good mouse."

Pink Floyd, taken under the wing of Beatles engineer Norman Smith, had early success, but Barrett, suffering from mental problems and heavy drug use, started demonstrating erratic behavior, including catatonia during concerts. He lef